Bosan. Paams bosan di kelas. Daritadi hanya melihat jam tangan atau pun jam dinding kelas, menunggu menit demi menit, detik demi detik, menunggu suara nyaring yang sepertinya ditunggu semua anak di kelas itu.
Dan 5 menit sebelum suara nyaring itu berbunyi menyelesaikan tugasnya, speaker kelas tiba-tiba bersuara.
Biasanya speaker kelas bersuara jika ada pengumuman atau saat akan berdoa Malaikat Tuhan jam 12 siang. Dan dengan perlahan, Paams mendengarkan pengumuman yang terlisankan.
“Ayah dari teman kita telah dipanggil Tuhan, yaitu ayah dari…”
Deg. Tiba-tiba perasaan Paams tidak enak, feeling yang tidak enak. Ada sesuatu yang berbisik pada dirinya, itu adalah orang yang dia kenal.
“…Gabriella Suarez Pratiwi kelas 9.3.”
Seketika Paams melongo. Mulutnya terbuka lebar. Ia bingung. Gabriella Suarez Pratiwi? Itu temannya! Gaby, nama panggilannya, sekelas dengannya saat kelas 8. Dia baik, dan pintar, saat kelas 7 ia masuk kelas khusus orang-orang pintar di sekolah. Paams…speechless. Ayah Gaby meninggal?
Paams menengok ke arah teman-teman yang sekelas dengannya saat kelas 8. Cynthia dan Dhika. Mereka juga tidak kalah kaget. Kita semua pandang-pandangan, bingung.
Dan ternyata memang benar. Ayah Gaby meninggal dan hari Senin nanti, 1 sekolah wajib membawa kolekte sebagai belasungkawa dari sekolah.
Dan setelah pengumuman, guru yang masih berbicara di speaker memandu kita semua untuk hening sejenak, berdoa Bapa Kami 1 kali dan Salam Maria 3 kali.
Dan, beberapa teman sekelas Paams ribut saat doa. Pada waktu itu, di kelas sedang jam kosong, gurunya kecelakaan.
Campur aduk. Paams sedih… tapi dia juga marah. Marah pada teman-teman sekelasnya yang ribut saat doa berlangsung, sangat tidak sopan. Tidak menghargai. Bagaimana jika mereka di posisi Gaby? Sesaat di mata Paams mereka seperti tidak menghargai… kehidupan. Tidak bersyukur bahwa mereka disini hidup dan sehat, bahwa mereka ada dan nyata, dan itu childish sekali.
Dan seketika, Paams mencoba memposisikan dirinya sebagai Gaby. Sakit, pasti sakit banget. Selama ini, Paams gak pernah dekat dengan kematian. She seems always so far from that word. Paling dekat adalah ketika pacarnya sedang sakit parah dan Paams benar-benar sangat ‘hancur’ waktu itu. Bagaimana kalau kematian itu akhirnya datang pada orang yang disayang? Bahwa esensi dari kematian itu sendiri, kesakitan dari kematian itu sendiri, adalah : menyadari bahwa orang yang kita sayang tidak bisa kita temui lagi.
Menyadari bahwa… manusia itu bisa gila saat perasaan rindu sudah mencapai puncak. Kegilaan yang harus siap dihadapi, karena dalam hidup, hal itu akan datang, pasti datang dan hanya akan ada 2 kemungkinan :
Menjadi hancur atau… dapat mengambil makna dari kematian itu sendiri.
Dan untuk mengambil makna dari sebuah -atau mungkin dua buah, tiga buah, empat buah- kematian, adalah sebuah usaha yang extremely hard. Gak, gak semua orang bisa melakukannya. Butuh usaha panjang dengan niat yang besar. Butuh tekad yang kuat dengan motivasi yang keras seperti batu.
Dan untuk orang-orang yang bisa memaknai kematian itu sendiri dengan positif, mereka pantas diberi award. Award untuk menghargai dan memaknai hidup.
Pulang sekolah, semua heboh dengan berita kematian ayah Gaby. Apalagi teman-teman sekelas dulu, saat masih kelas 8. Kenapa? Karena kelas Paams saat itu termasuk kompak…banget. Walaupun mungkin nakal-nakal, kita punya hubungan yang ada bunyi ‘klik’. Walaupun sering marahan atau kesel-keselan, bunyi ‘klik’ itu senantiasa ada dan membuat kita selalu tertawa saat berkumpul bersama. Sebuah kenangan masa remaja yang pasti membuat senyum-senyum sendiri saat masing-masing individu beranjak dewasa. (dan jujur saya pun senyum-senyum saat menuliskan ini.)
Tadi baru saja Paams chatting dengan Gaby, singkat. Status MSN nya membuat Paams sesek. Membuat mata berkaca-kaca.
Apa statusnya?
Pa,dd ga bs ngmng ap2 gy..dd dh ga bs dgr pa ngmel gy,pa bgnin dd gy..papa bahagia ya dsana..
Sekali lagi Paams memposisikan diri sebagai Gaby, kehilangan salah satu orang terhebat, terkuat, tercinta, di dunia ini. Mungkin, rasanya seperti kehilangan sebagian dari tubuh. Menjadi sangat rapuh dan goyah. Dan kita harusnya wajib untuk membuat teman seperti Gaby tidak menjadi goyah. Topang dia semampu kita, sebisa kita.
Bagaimana saat kematian datang, serpihan masa lalu akan datang di benak masing-masing individu, menyadarkan kita bahwa kenangan itu sendiri tidak bisa mati. Kenangan yang pasti akan sakit jika diingat, dan sayangnya eksistensinya akan terus ada.
Tapi paling tidak… kenangan itu menyadarkan bahwa kita semua nyata, real, bahwa kita semua sedang menghadapi hidup. Dulu, sekarang, dan nanti.
Dan Paams berharap, Gaby jangan menjadi goyah, rapuh. Kita semua siap menopangmu, teman : -)
Gaby masih punya masa depan cerah yang berada di balik pintu terkunci…
Dan tugasmu Geb, raih kunci itu dan kita buka sama-sama.
Sekalipun kita tidak tahu… intisari hidup itu sendiri apa, selain kematian.
Tulisan ini didedikasikan untuk Gaby,
temen seperjuangan gw saat kelas 8,
tetep semangat Geb!
5 tanggapan so far ↓
KiMi // 26 Juli, 2008 pada 9:10 pm
Saya turut berduka cita. Semoga teman kamu dan keluarganya diberi ketabahan oleh Tuhan YME.
Paams // 27 Juli, 2008 pada 7:03 pm
kok gw sedih sendiri baca tulisan gw ya…
annis // 3 Agustus, 2008 pada 9:18 pm
May Gaby’s pop rest in peace.
Amen.
See paams, two things that’s certain int this life is tax and DEATH. You must thank and be grateful for each moment in this life that God has already give you since the very-first breathe you take.
Dan tentang kehilangan, semua pasti akan merasa sangat kehilangan saat seseorang yang sangat berarti buat kita udah gak bisa disamping kita lagi. But life goes on and we must struggle for life and make they proud of us although it’s hard. Believe me, i’ve through this. I’ve lost my pop too and now i’m trying to make him happy coz i believe that he still watch me from heaven.
adhi // 11 Agustus, 2008 pada 1:04 am
Maka dari itu, bahagiakanlah dan berbuat baiklah kepada orang tua kita selagi masih hidup…
rahmadisrijanto // 7 September, 2008 pada 9:02 am
sebuah renungan…..
sepertinya bener kata paams, gmana klo hal itu menimpa kita dan orang tak terlalu perduli??