Paams on wordpress…

Masukan dari Oktober 2008

Aulia Lastriarsi

11 Oktober, 2008 · 8 Tanggapan

hari itu…di sekolah. Semua teman-teman dekatku sudah kuceritakan tentang berbagai kecurigaanku. Kuceritakan dengan begitu bersemangat, agak tergesa-gesa. Terlihat aku sedikit mentertawakan kecurigaan itu, padahal jujur, aku sakit memikirkannya. Pilu rasanya, mengetahui bahwa mencurigai seseorang itu salah, tapi di satu sisi tanda-tanda itu sudah terlalu jelas untuk diabaikan. Aku ngilu membayangkan kalau-kalau kecurigaan itu beralaskan.

Hari itu…teman-temanku sepakat untuk menghubungi rumahnya dengan hp-ku yang sedang rusak itu. Telah disepakati, bahwa rencananya adalah begini : Lia yang menelepon, menanyakan apakah Aulia ada di rumah atau tidak, dan jika ditanyakan dari siapa, maka akan menjawab dari Cempaka. Dan telah disetujui, kalau ternyata jawabannya adalah Aul sedang pergi atau semacam itu, berarti Diaz Lazuardi = Aulia Lastriarsi, berlandaskan alasan di bawah ini :

1.) Jelas bahwa rumah Diaz dan Aulia berbeda. Diaz mengaku bahwa rumahnya ada di Harapan Indah, sementara Aul, didapat dari data-data Google, berada di Harapan Jaya.

2.) Pernah suatu hari kucoba menelepon rumah Diaz dan menanyakan apakah ada Diaz di rumah, tapi jawabannya hanya membingungkan aku : maaf, salah sambung.

Berlandaskan alasan-alasan utama itu (disamping alasan-alasan sekunder lainnya), maka aku dan teman-temanku akhirnya menelepon rumah itu saat istirahat ke-2, di kamar mandi sekolah. Beramai-ramai, membentuk lingkaran, sementara aku berada di sisi cukup luar, agak segan mendengarnya, karena hatiku sudah memberitau jawabannya, jauh-jauh sebelum rencana itu sendiri dibuat. Ngilu saat membayangkan jawaban itu akan terealisasikan, di depan teman-temanku.

‘Halo…’ suara di seberang sana memulai percakapan, wanita, entah pembantu atau malah si pemilik rumah.

‘Halo,’ Lia menyapa balik, lalu melanjutkan kalimatnya, ‘Aulia nya ada?’

‘Aulianya lagi liburan ke Yogya, ini siapa ya?’ maka 1 kalimat sederhana itu tepat sasaran mengenai diriku, dan tubuhku bergetar sedikit mendengarnya, sedikit hancur. Tahap kehancuran : 25%

‘Oh, ini Cempaka,’ Lia membalas cepat, sesuai dengan rencana. Mulutku menggumamkan kalimat ‘itu rumahnya bukan?’, Lia mengangguk, tanda mengerti. Ah, walaupun jahil, tapi otaknya memang cepat sekali dalam urusan seperti ini. ‘ini rumahnya Aulia, kan?’ Lia bertanya, tepat sasaran, sesuai dengan maksud gumamanku.

‘iya,’ singkat, padat, dan jelas. Jelas menghancurkanku. Hubungan telepon itu segera ditutup oleh Lia, dan teman-temanpun bersorak-sorai, riuh, sambil sedikit shock, tapi jelas di muka mereka ada tawa. Aku menghambur cepat keluar kamar mandi, menuju ke kelas. Gayaku berjalan sengaja kubuat agak berlebihan, supaya teman-temanku menyangka bahwa aku hanya bercanda. Tapi, di dalam? Aku hancur, hancur saat semua telah terbukti. Orang yang jelas sempat menjadi orang yang kupercayai lebih dari apa pun, lebih dari keluargaku sendiri, telak menipuku, habis-habisan, dengan sangat meyakinkan. Tahap kehancuran : 50%

Teman-temanku sedikit menghiburku, aku tau mereka bersimpati, tetapi tawa mereka tetap ada di sana. Dan yang paling kontras menghiburku adalah Claudia, karena ia mengalami nasib tak jauh beda denganku.

Di depan kantin, kami berkumpul lagi, ditambah 1 anggota baru : Cynthia. Dia sama penasarannya dengan teman-temanku. Kami mencoba menelepon lagi, dan kali ini yang berbicara adalah Nova. Kalau ditanya dari siapa, jawab saja dari Anin, begitu kataku. Bedanya, pada rencana ini yang kami tanyakan adalah Diaz, dan bukan Aulia.

‘Halo…’ suara disana kembali menyapa, sepertinya masih suara yang sama.

‘Halo, Diaznya ada?’

‘Hah? Cari siapa?’ Terdengar suara disana sedikit kebingungan, membuat hatiku tambah hancur, aku sudah tau kelanjutannya bagaimana dan seperti apa.

‘Diaz. Diaznya ada?’ Nova mengulangi.

‘Oh, maaf, salah sambung.‘ Dan kata itu keluar, maka tahap kehancuran disini naik pesat, melesat seperti roket ke bilangan : 100%. Teman-temanku kontak berteriak, lebih kencang dari sebelumnya, aku mencoba tersenyum, senyum kecut. Dan diam, selanjutnya adalah teman-temanku meledek aku habis-habisan, mentertawakanku, dan mengataiku : lesbi, abnormal, dan sebagainya. Aku tidak tersinggung. Aku hancur.

Dan hari ini… aku bertengkar denganmu, jelas aku sudah 100% tidak percaya denganmu, dan saat kuajukan bukti-bukti itu, kamu hanya berkata : mungkin salah nomor. Bila itu nomormu, Diaz Lazuardi, aku kasih tau kamu satu hal : aku tidak punya nomor Aulia Lastriarsi.

Dan disitu kamu, diam dalam keheningan, terdengar di telepon sayup-sayup suara lagu, entah lagu apa. Kamu bilang sudah malas untuk menyangkal, karena sudah lelah, capek. Tapi apakah berlebihan jika aku berpikir bahwa kamu sebenarnya sudah tidak tau kebohongan apa lagi yang akan kamu keluarkan, karena aku sudah tau terlalu banyak?

Apalagi beberapa hari yang lalu, kamu baru saja mengatakan bahwa kamu belum bisa melupakan aku. Dan beberapa hari kemudian, kamu menembak seseorang, seseorang yang merupakan sahabat aku, dan kamu bilang padanya bahwa kamu sudah biasa saja denganku. Hatiku bertambah hancur mengetahuinya.

Memang, kita sudah putus, hampir sebulan lamanya. Tapi, kenapa kebohongan itu terus kamu keluarkan? Ke aku, ke sahabat aku. Aku hanya semakin hancur, mendapati bahwa aku belum bisa melupakan kamu, dengan segala kebohongan kamu ini. Aku yang bodoh. Ironis.

Dan aku sangat, sangat, sangat marah pada dia, Aulia Lastriarsi, untuk menipuku seperti ini, untuk menghancurkanku sampai menjadi beribu kepingan, untuk menghilangkan senyumku yang dulu, dan untuk membuatku semakin tidak normal. Dan aku, tidak pernah semarah ini dalam hidupku. Tidak, aku yakin sekali ini kemarahanku yang paling besar selama hidupku. Kemarahan untuk seseorang yang bahkan belum pernah kutemui.

Dan aku, tidak akan pernah melupakan hal ini. Tunjukkan dirimu, kalau kamu memang mampu, Aul. Dan jika kamu memang tidak bisa menunjukkan dirimu, aku yang akan menunjukkan diriku lebih dulu, dengan caraku.

Sebut aku childish, kekanakan, atau apa. Tapi DIA, AULIA LASTRIARSI, jauh lebih parah dari aku. Jika benar dia menipu, dia benar adalah sangat JAHAT. Dan kamu tau Aul, aku tidak pernah menyebut seseorang JAHAT sebelumnya. Dan kamu spesial mendapatkan gelar itu dari aku, Pamela Novranska Permata Lumban Tobing, dengan ditaburi kemarahan yang luar biasa besar, dan dendam yang begitu memuncak.

Buang gue, kalau itu memang mau lo, tapi lo akan menyesal untuk telah menipu gue berbulan-bulan. Membuat gue membuang banyak sekali uang gue untuk pulsa-pulsa tak berguna, membuat gue bolos sekolah beberapa kali hanya karena bertengkar dengan elo, membuat gue gak belajar untuk ulangan karena sibuk telfonan dengan elo, dan untuk satu ini : membuat gue terus menangis karena luka itu, dan luka itu permanen sifatnya, tidak akan pernah disembuhkan, dan lukanya bernanah dan terbuka semakin lebar setiap hari!

Kategori: Uncategorized